"Ketika lahir engkau menangis, tetapi dunia tersenyum gembira. Buatlah hidupmu hidup sehingga ketika engkau mati, dunia menangisimu, tetapi ruhmu tersenyum menyambut surga."
- Old Middle Eastern Blessing
"Bagaimana saya tidak menjadi entrepreneur, saya lahir saja sudah dikelilingi barang-barang dagangan orang tua," ujar Ir. Ciputra dalam salah satu seminar kewirausahaan. Tak lama kemudian, di usia kanak-kanaknya, Ciputra menyaksikan sendiri bagaimana orang tuanya menyelesaikan transaksi, melakukan order, memenuhi janji, dan seterusnya.
Seorang pimpinan perusahaan lain asal dari Pekalongan bercerita asal-mula jiwa wirausaha yang tumbuh kuat dalam dirinya. "Saya tinggal di sebuah pabrik tekstil. Ayah saya adalah pemilik pabrik itu. Di pasar, kakak-kakak saya membuka toko. Selepas sekolah, saya diminta ayah mengayuh sepeda mengecek harga. Karena belum ada telepon seluler, saya harus mondar-mandir seorang diri, tanya sana tanya sini," ujarnya mengenang masa lalunya. "Lama-lama intuisi saya jadi terbentuk. Saya menjadi cepat dalam mengambil keputusan dan peka dalam judgement," katanya lagi.
Apakah yang membentuk jiwa wirausaha kedua orang diatas? Garis keturunankah atau sosialisasi?
Dulu kita percaya menjadi wirausaha membutuhkan darah wirausaha. Banyak orang mengeluh tak bisa menjadi pengusaha karena mereka bukan keturunan pengusaha. Maka tak heran kalau usahanya tak maju-maju. Tetapi sekarang kita saksikan profesi sebagai wirausaha digeluti oleh orang dari berbagai kelompok, latar belakang pendidikan, dan tentu saja ada yang sukses dan ada yang kurang beruntung.
Jadi, wirausaha bukanlah soal genetika, melainkan pada siapa Anda mengekspos diri. Namun seperti kata pepatah, Anda menjadi sesuatu karena siapa yang menjadi teman-teman Anda, maka kita pun mengenal istilah entrepreneurship DNA, yaitu DNA perilaku yang didapat dari lingkungan kita untuk mendapatkan DNA ini, perhatikan tip berikut ini :
• Bergaullah seluas-luasnya dengan wirausaha sukses yang benar-benar profesional dan berpegang teguh pada etika. Tidak semua wirausaha itu murni pengusaha. Ada diantara pengusaha yang hanya mencari komisi yang kita sebut calo, atau pengusaha "plat merah" yang hanya bermodalkan koneksi pada pejabat dan memenangkan tender karena menyuap. Mereka bukanlah pengusaha sejati, jauhilah mereka.
• Milikilah benih-benih DNA kewirausahaan yang dasarnya adalah open mind (keterbukaan pikiran), disiplin, ekstrovert, kemampuan bersepakat, dan tahan banting.
• Perkaya kemampuan membaca lapangan dengan mengasaha intuisi dari persoalan-persoalan di lapangan.
• Mulailah membaca buku, karena dengan membaca Anda bisa mendapat pencerahan dan menambah pengetahuan.
• Sekalipun Anda mendapatkan warisan perusahaan dari orang tua, Anda punya tugas memperluas usaha, dan memajukan usaha mereka. Bekerja lebih keraslah, jangan cepat putus asa atau merasa bahagia semata-mata karena menerima warisan belaka.
• Jangan pernah merasa bergengsi atau malu memulai segala sesuatu dari nol, karena semata-mata Anda anak seorang pengusaha.
• Bila tak memungkinkan berusaha dari nol, berkerjalah pada orang lain/perusahaan lain terlebih dulu. Rasakan dan nikmati rasanya menjadi bawahan dan memimpin pada perusahaan yang bukan milik sendiri.
"Belajar, dapatkan dan kembalikan. Inilah tiga kunci kebahagiaan. Yang pertama kejarlah di bangku sekolah, yang kedua bangunlah karir atau bisnis, dan yang terakhir kembalikan pada orang-orang yang kurang beruntung sebagai rasa terima kasihmu."
- Jack Balowsek
Komentar
Posting Komentar