Kisah Sukses Merry Rianadi di Usia Muda.



“Aku tidak memiliki modal, koneksi, dan keahlian apapun. Namun dengan attitude yang positif, ketekunan, dan kerja keras yang luar biasa, aku akhirnya berhasil membayar lunas semua utangku dalam waktu enam bulan, dan mencapai kebebasan finansial 4 tahun setelah kelulusanku pada tahun 2002.” (Merry Riana)

Jika Anda adalah pemerhati bisnis, nama Merry Riana tentu sudah tak asing lagi bagi Anda. Ia adalah salah satu miliarder muda asal Indonesia yang berhasil mengumpulkan pundi-pundi kekayaannya di Singapura.

Sebelum mencapai kesuksesan seperti sekarang ini, Merry Riana adalah seorang mahasiswa dengan keadaan ekonomi memprihatinkan. Kehidupan yang serba kekurangan selama kuliah itu mendorong Merry untuk keluar dari belenggu kesulitan ekonomi yang dialaminya.

Kesulitan hidup yang dialami Merry melahirkan kemauan kerasnya untuk sukses. Kisah hidup Merry bermula ketika ia melanjutkan kuliahnya di Nanyang Technological University (NTU), Singapura.

NTU merupakan salah satu universitas paling bergengsi di Singapura, di mana para mahasiswanya datang dari kalangan menengah ke atas. Di kampus ini Merry mengambil jurusan Electrical and Electronics Engineering.

Merry punya cerita khusus mengapa ia bisa sampai kuliah di luar negeri. Ia harus lari ke Singapura karena maraknya kerusuhan Mei ’98. Kondisi negara yang tak aman mendorong orangtua Merry menyuruhnya kuliah ke luar negeri.

Orangtua Merry, meskipun tidak tergolong miskin, tidak bisa meberikan bekal finansial berlebih kepadanya saat kuliah di Singapura. Merry hanya diberi bekal $7 ribu Singapura atau sekitar Rp.7.000.000.

Uang itu digunakannya untuk membeli perlengkapan pokok yang diperlukan oleh seorang mahasiswa baru. Uang itu juga digunakannya untuk membeli buku-buku kuliah.

Meskipun jarak Jakarta-Singapura tidak dekat, Merry tidak menolak memboyong beras, gula, kompor, dan komputer dari rumah untuk digunakannya di Singapura. Ia juga membawa sebuah buku pemberian ibunya yang berisi doa dan kata-kata mutiara.

Isi buku inilah yang menjadi pelecut semangat ketika Merry mengalami masa-masa sulit. Tanpa kebulatan tekad dan kemauan yang kuat, Merry mustahil dapatbisa survive hidup di negara asing dengan keadaan yang serba kekurangan.

Setiap hari ia harus hidup dengan prihatin. Supaya bisa berhemat, Merry sering mengonsumsi roti dan mie instan, kadang ia juga berpuasa, atau membawa bekal dari rumah ketika berangkat kuliah. Karena sering diledek teman-temannya, ia kadang makan bekalnya di kamar mandi.,

“Sempat saya kesal dan frustasi. Sudah jauh-jauh hidup di negeri orang, tapi tak bisa makan enak seperti teman-teman sebaya. Bahkan, saya sering makan bekal di toilet perempuan karena malu. Itu masa-masa paling memilukan dalam hidup saya.”

Pada tahun pertama kuliah ia harus bertahan hidup hanya dengan sepuluh dolar atau sekitar tujuh puluh ribu rupiah untuk tujuh hari. Itu berarti, ia hanya punya anggaran sepuluh ribu rupiah per harinya untuk makan.

Keadaan yang demikian mendorong Merry untuk mencari pekerjaan sampingan. Ia pun bekerja paruh waktu sebagai pelayan restoran, penjaga toko bunga, dan penyebar pamflet beragam produk di jalanan. Merry mendapat upah yang relatif kecil, yakni lima dolar Singapura per jamnya.

Kondidi finansial Merry yang semakin seret memaksa Merry untuk berhutang pada Pemerintah Singapura senilai $40.000 atau sekitar Rp280.000.000. Dana itu
digunakannya sebagai biaya kuliah dan setelah ia lulus ia akan melunasi hutang tersebut.

Setelah lulus kuliah, Merry mulai memikirkan bagaimana cara supaya bisa melunasi hutang-hutangnya.

“Aku selalu berpikir bahwa biasanya untuk membangun suatu bisnis yang sukses, harus memiliki tiga komponen: modal, relasi, dan keahlian. Pada waktu itu, tak satupun yang kumiliki. Dari segi modal, aku malahan masih berhutang S $40.000. Dari segi relasi, semua temanku hanyalah sesama pelajar yang juga baru lulus dan masih menganggur. Sedang dari segi keahlian, aku hanya mempunyai keahlian teknik, bukan bisnis atau keahlian berkomunikasi. Singkatnya, sumber daya yang kumiliki sangat terbatas.”

Melihat bagaimana perjuangan orang tuanya dalam membiayai kuliahnya, Merry lantas punya cita-cita untuk sukses di usia muda.

Merry bertekad bahwa sebelum merayakan ulang tahunnya yang ke-30, ia harus sudah mencapai kesuksesan berupa kebebasan finansial, bisa membayar semua hutangnya, dan tentu saja dapat membahagiakan kedua orangtuanya.

Meskipun ketiga hal tersebut masih dirasa seperti mimpi, namun harapan Merry untuk bisa meraih mimpi tersebut sangatlah besar.

Memasuki tahun ketiga kuliahnya, Merry pernah berkesempatan magang di sebuah perusahaan di Singapura. Di perusahaan ini ia bisa mendapatkan upah yang lumayan, yakni tujuh ratus lima puluh dolar per bulannya.

Baru dua bulan berjalan, Merry sudah berpikir, jika ia terus bekerja untuk orang lain, maka impiannya untuk sukses di usia muda akan susah tercapai. Maka itu, dengan tekad dan niat membahagiakan orang tuanya, ia mampu mengalahkan semua rintangan.

Saat masih kuliah, Merry sadar bahwa pada waktu itu usianya hampir menginjak dua puluh tahun sedangkan orang tuanya sudah berusia lebih dari lima puluh tahun. Mengingat usia kedua orang tuanya sudah menuju senja, maka timbullah pikiran bahwa jika ia sukses, ia ingin kesuksesannya itu juga bisa dinikmati oleh kedua orang tuanya.

Semua keterbatasan tersebut tak membuat Merry patah semangat. Meskipun ia tak memiliki modal finansial, namun Merry masih dapat memanfaatkan modal utama yang ia miliki berupa sikap positif, ketekunan, dan keyakinan.

“Aku tidak memiliki modal, koneksi, dan keahlian apapun. Namun dengan attitude yang positif, ketekunan, dan kerja keras yang luar biasa., Aku akhirnya berhasil membayar lunas semua hutangku dalam waktu enam bulan, dan mencapai kebebasan finansial 4 tahun setelah kelulusanku pada tahun 2002.”

Merry melakukan banyak usaha untuk mencapai apa yang dicitakannya. Ia pernah mencoba peruntungan di Multi Level Marketing (MLM), juga pernah ikut dalam ajang jual beli saham. Setelah menjajagi beberapa jenis usaha, Merry akhirnya memilih untuk menekuni sebagai penasihat keuangan.

Sebelumnya, Merry juga telah beberapa kali jatuh bangun dalam membangun bisnis. Ketika pertama kali ikut dalam bisnis MLM, Merry tertipu Rp1.400.000. Ia juga pernah kehilangan sepuluh ribu dolar atau sekitar Rp70.000.000 hanya dalam waktu tiga puluh hari saat melakukan transaksi saham.

Padahal, uang itu merupakan simpanan dari hasil jerih payahnya selama empat tahun bekerja saat masih kuliah. Namun demikian, kegagalan itu tak membuatnya berputus asa. Ia juga tak lantas mengubah haluannya untuk menjadi pegawai dan melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan.

Merry bertekad untuk menekuni setiap usaha yang diyakininya akan menuai hasil. Setelah naik-turun dalam menjajagi dunia bisnis, Merry akhirnya menemukan bahwa dunia saham adalah bisnis yang tepat baginya. Itupun karena tidak sengaja.

“Saya terima ajakan teman berbisnis Multi Level Marketing (MLM). Setelah bayar investasi 200 dolar Singapura dan ikut seminar, ternyata saya ditipu. Lalu, saya ikut klub bisnis di kampus. Ada kompetisi tentang saham, simulasi modal, target, dan keuntungan. Meski hanya permainan, eh, saya menang. Ya sudah, saya mulai bermain saham betulan.”

Perjalanan Merry dalam menekuni dunia saham juga berjalanan bukan tanpa hambatan. Satu di antaranya justru muncul dari orang tua Merry yang menyangsikannyauntuk terjun di dunia bisnis.

Ini karena kedua orangtuanya lebih menghendaki anak perempuannya ini menjadi seorang pegawai. Menghadapi respon negatif dari orang tuanya, Merry berusaha memberi pengertian pada orangtuanya dan meyakinkan orangtuanya bahwa ia mampu.

Karena tak punya banyak modal, Merry menggabungkan uang milikinya dan milik Alva, kekasihnya. Alva adalah orang yang peling mendukung usaha Merry. Pada tahun 2002, Merry akhirnyapun dapat bisa memulai usahanya sebagai konsultan keuangan.

Ia menjual produk asuransi, tabungan, deposito, investasi, unitilink, dan kartu kredit. Dari sinilah awal usaha Merry di bidang keuangan bermula. Karena di awal
perintisannya Merry belum punya banyak klien, Merry mengambil langkah nekat dengan menjadi sales produk asuransi.

Merry tak malu menawarkan langsung usahanya tersebut kepada para kliennya. Merry pun dapat bisa membuktikan apa yang telah dijanjikannya kepada orang tuanya.
Usaha yang ia geluti berkembang dengan begitu cepat. Hanya selang setahun dari perintisan kariernya, Merry telah berhasil mengumpulkan modal.

Dan Ia pun mulai merekrut staf sebagai salesman sekaligus mulai membangun “tim impian” atau yang sering disebut dengan The Dream Team. Tim inilah yang menjadi cikal bakal Merry Riana Organization (MRO), sebuah perusahaan milik Merry yang bergerak di bidang konsultasi keuangan.

MRO menjadi perusahaan yang mengantarkan Merry menuju puncak kesuksesan. Hanya dalam jangka waktu 4 tahun setelah Merry lulus dari NTU, ia sudah punya pendapatan sebesar Rp7 miliar.

Padahal, pada waktu itu usia Merry baru 26 tahun. Dengan demikian, Merry akhirnyapun berhasil membayar lunas semua hutangnya dalam waktu enam bulan dan mencapai kebebasan finansial empat tahun setelah
kelulusannya.

Nama Merry kini diakui dunia sebagai pengusaha sukses, motivator yang sangat dinamis, serta penulis buku terlaris di Singapura. Pada tahun 2004, Merry mengembangkan organisasi konsultan keuangan.

Pada 2006, penghasilan Merry telah mencapai satu juta dolar dan dinobatkan sebagai profesional termuda dengan penghasilan besar di Singapura.

Berkat beberapa pencapaian yang berhasil ia perloleh, Merry pun mendapat beberapa penghargaan bergengsi. Pada tahun 2005, ia menerima penghargaan sebagai Top Agency of the Year dan Top Rookie Agency.

Di tahun 2006, ia meraih Nanyang Outstanding Young Alumni Award. Dua tahun setelahnya, ia juga mendapatkan penghargaan Spirit of Enterprise Award. Ia juga menjadi wanita paling inspiratif dengan meraih Great Women of Our Time Award pada tahun 2010 lalu.

Bagaimana dengan kita? Bersediakah kita melakukan segala upaya yang Merry kerahkan untuk mencapai target hidupnya?

Kebuilatan tekad dan kemauan yang kuat membuat Merry mampu bertahan di tengah gempuran kekurangan dalam hidupnya. Justru, karena segala kekurangan finansial yang ia hadapi itulah yang mampu membuatnya bertahan dan mencapai potensi maksimalnya.

Itulah kisah mereka yang tidak kenal lelah untuk mengubah nasib mereka sendiri. Terbukti kan kalau dengan kerja keras dan pantang menyerah kamu akan bisa memperbaiki jalan hidupmu.

Jadi jangan takut untuk bermimpi besar mulai sekarang karena tidak ada yang tidak mungkin selama kamu memiliki usaha keras untuk meraihnya.

Komentar